Minggu, 17 Februari 2013

BERTUTUR KATA YANG BAIK

Dasar bertutur kata yang baik bukan untuk mendapatkan pujian, atau agar dikatakan sebagai orang yang shaleh, dsb. Namun hendaknya dalam bertutur kata yang baik, semata-mata didasari untuk mengharapkan keridhaan Allah Ta'ala. Sehingga kendatipun ada seseorang yang mengatakan sesuatu yang tidak baik terhadap kita, maka kita tetap harus bertutur kata yang baik terhadapnya. Karena tujuan kita dalam bertutur kata yang baik adalah mengharapkan keridhaan Allah Ta'ala, bukan supaya orang lain juga berkata-kata yang baik kepada kita. Karena sesungguhnya untuk mengetahui “rahasia” seseorang, dapat kita lihat dari tutur katanya.

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wa Salam bersabda, ‘ Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia bertakat-kata yang baik atau hendaklah ia diam. ” (HR. Bukhari & Muslim)

Kebalikan dari berturur kata yang baik adalah berkata-kata yang kasar dan atau kotor. Indikasi dari suatu perkataan itu baik atau tidak adalah bahwa perkataan kita tidak menjadikan orang lain sakit hati, tersinggung, marah dan kecewa. Maka jika diperhatikan dalam hadits diatas : ‘Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia bertakat-kata yang baik atau hendaklah ia diam.” Artinya bahwa diamnya seseorang yang “khawatir” salah ucap yang mengakibatkan “ketersinggungan” orang lain, adalah jauh lebih baik di bandingkan dengan orang yang “memaksakan diri” untuk berbicara, sementara isi pembicaraannya menyinggung, atau menyakiti hati orang lain
.
Diantara bentuk tutur kata yang kurang baik adalah “bercanda” atau guyonan yang malampaui batas. Baik melampaui batas secara syar'i (misalnya guyonan dalam masalah nikah, “aku terima nikahnya”, dsb), maupun melewati batas kewajaran (misalnya ungkapan yang bersifat“ngerjain” orang lain, untuk bahan tertawaan), dsb. Sebaiknya hal-hal seperti ini perlu dikurangi, atau jangan berlebihan.

Hadits di atas juga menggambarkan keterkaitan antara bertutur kata yang baik dengan iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Hal ini menggambarkan bahwa ternyata apapun yang kita ucapkan kelak akan dimintai pertanggung jawaban dari Allah Ta'ala. Oleh karenanya, hendaknya setiap kita harus berusaha untuk memilih dan memilah ketika bertutur kata.

Allah Ta'ala. berfirman : “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaaf : 18)

Perkataan yang tidak baik akan mengakibatkan “hilangnya”pahala amal shaleh seorang. Dalam sebuah riwayat dikisahkan sebagai berikut :

Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah Shallallahu'alaihi Wa Salam bersabda, 'Tahukah kalian siapakah orang yang muflis (bangkrut) itu? Para sahabat menjawab, 'Orang yang muflis (bangkrut) diantara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.' Rasulullah Shallallahu'alaihi Wa Salam bersabda, 'Orang yang muflis (bankrut) dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, namun ia juga datang (membawa dosa) dengan mencela si fulan, menuduh si fulan, memakan harta ini dan menumpahkan darah si ini serta memukul si ini. Maka akan diberinya orang-orang tersebut dari kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis sebelum ia menunaikan kewajibannya, diambillah keburukan dosa-dosa mereka, lalu dicampakkan padanya dan ia dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim)

Wallahu A’lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar